لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْك

HUKUM MEMUTUS SILATURAHMI

Sesuai HR Bukhori & Muslim dalam Kitab Bulughul Maram No.1464
Memahami hukum memutus silaturahmi adalah bagian penting dalam menjaga kemurnian hubungan antarsesama Muslim. Dalam ajaran Islam, silaturahmi bukan sekadar anjuran moral, tetapi juga kewajiban yang berperan besar dalam menghadirkan ketenangan hidup. Banyak orang merasakan bahwa kualitas hubungan keluarga adalah cermin dari kualitas diri. Namun, tak jarang seseorang tergoda oleh emosi, perbedaan pendapat, atau semangat kompetisi yang justru menjerumuskan pada sikap menjauh dan memutus hubungan. Karena itu, memahami posisi syariat mengenai hal ini menjadi langkah penting agar sobat ahlan tidak terjebak dalam sikap yang merugikan diri sendiri maupun keluarga.

HUKUM MEMUTUS SILATURAHMI

Makna dan Hukum : Tidak Masuk Surga dalam Ancaman Memutus Hubungan Silaturahmi

Silaturahmi bukan hanya tradisi sosial, tetapi juga fondasi kuat dalam pembangunan umat. Para ulama sepakat bahwa memutus hubungan darah termasuk dosa besar karena berkaitan langsung dengan kedudukan seseorang di sisi Allah. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa ancaman ini sangat tegas. Bagi sobat ahlan yang ingin menjaga keberkahan hidup, memahami ancaman tersebut merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran dan komitmen bahwa keluarga adalah amanah, bukan sekadar hubungan biologis.

Diharamkan Memutuskan Hubungan Silaturahmi dan Dampak Sosialnya

Ketika seseorang dengan sengaja memutus tali kerabat, maka ia tidak hanya menyakiti keluarganya, tetapi juga merusak harmoni sosial. Tindakan tersebut sering berawal dari masalah yang sepele, namun merembet menjadi jurang panjang yang sulit dijembatani. Untuk itu, sobat ahlan perlu memahami bahwa menjaga hubungan, meski dalam kondisi sulit, adalah bentuk ibadah dan pengendalian diri yang memiliki nilai tinggi di sisi Allah.

Menjauhi Sikap Menyakiti Kerabat atau Enggan Berbuat Baik

Salah satu penyebab retaknya hubungan ialah perasaan tersinggung, iri, kecewa, atau buruk sangka. Sikap ini sering berkembang menjadi penghindaran, bahkan penolakan untuk berbuat baik. Pada akhirnya, sobat ahlan kehilangan kesempatan meraih pahala besar dari berbuat baik kepada keluarga sendiri. Islam memandang bahwa kebaikan kepada kerabat memiliki nilai ganda: pahala silaturahmi dan pahala sedekah.

Mengelompok-Kelompokkan Kerabat dan Munculnya Konflik Baru

Fenomena lain yang merusak hubungan keluarga adalah sikap mengelompokkan kerabat berdasarkan kepentingan pribadi. Tindakan ini menanam benih permusuhan secara perlahan. Ketika jarak itu semakin melebar, sobat ahlan sering terjebak untuk membela satu pihak dan menyalahkan pihak lainnya. Padahal Islam menekankan keadilan dan keseimbangan dalam menjaga hubungan.

Akibat Besar : Membuat Seseorang Jauh dari Rahmat dan Ridha Allah

Memutus silaturahmi bukan hanya memutus hubungan antar manusia, tetapi juga merusak hubungan vertikal seseorang dengan Allah. Banyak ulama menjelaskan bahwa jauhnya rahmat dan ridha Allah bukan hanya terjadi di akhirat, tetapi juga terlihat dalam kehidupan dunia—melalui hilangnya keberkahan, datangnya masalah bertubi-tubi, hingga rasa sempit dalam hati. Maka sobat ahlan, menjaga silaturahmi sejatinya adalah menjaga ketenangan batin sendiri.

Penutup :

Pada akhirnya, hukum memutus silaturahmi jelas merupakan larangan tegas dalam syariat, karena mengandung banyak kerusakan, baik bagi pelaku maupun lingkungan sosialnya. Setiap Muslim dituntut untuk menjaga hubungan, meski melalui proses yang sulit sekalipun, sebab keberkahan hidup sangat erat kaitannya dengan kemampuan seseorang memulihkan hubungan keluarga. Dengan memahami bahaya tindakan ini—Tidak masuk surga, Diharamkan memutuskan hubungan silaturahmi, Menyakiti kerabat atau enggan berbuat baik kepadanya, Mengelompok kelompokkan kerabat, Membuat seseorang jauh dari Rahmat Dan Ridha Allahsobat ahlan dapat meneguhkan hati untuk terus memelihara ikatan kasih sayang dalam keluarga.

 

$
590
Premium Hajj
$
890
Ramadan Umrah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Assalamu'alaykum warahmatullah wabarakatuh
Ahlan.
Apa yang bisa kami bantu?